Buletin San Damiano V – 2022

Gerakan Nurani Ekologi

Salam jumpa para Saudara JPIC- Bruder MTB dan Saudara-Saudari yang peduli pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan yang baik, semoga sehat dan tetap semangat. Buletin SAN DAMIANO JPIC Bruder MTB edisi V ini bertema “Pandemi  Covid-19 dan Krisis Lingkungan Hidup.” Tema ini dimaksudkan bagaimana kita secara pribadi maupun bersama-sama merespon situasi pendemi yang merupakan bagian dari krisis lingkungan hidup. Krisis lingkungan hidup ini juga berdampak pada pemanasan global, perubahan iklim yang ekstrim, masalah air bersih, polusi pada tanah, air, dan udara karena sampah, kelaparan, jeritan orang miskin, serta masalah sosial lainnya. Begitu banyak persoalan hidup (multidimensi krisis) mendera kita di zaman modern-teknologi. Dunia macam apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang? Pertanyaan ini memicu suatu jawaban-solusi ke depan berupa gerakan nurani ekologi (GNE).

Persepsi yang Sama

Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si (Mei 2015) menyerukan kepada semua orang yang berkehendak baik untuk merawat dan menjaga Ibu bumi rumah kita bersama. Namun selama ini seruan tersebut belum ditanggapi secara serius, sehingga diserukan lagi Laudato Si Action Platform. Rumah kita bersama semakin sakit-terluka oleh keganasan manusia yang berkuasa dan tidak bertanggung jawab atas sumber daya bumi yang diberikan Tuhan. Manusia terus merusak ekosistem alam, sehingga terjadi krisis lingkungan hidup, polusi tanah, air dan udara serta pemanasan global. Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa tangisan bumi dan orang miskin yang paling menderita. Semuanya itu saling berhubungan dan ketergantungan satu sama lain karena kesehatan kita tidak terlepas dari lingkungan hidup. Dengan demikian, kita membutuhkan pendekatan ekologi baru, mengubah cara hidup kita, dan gaya hidup kita dalam hubungan-relasi dengan sumber daya Bumi. Dengan kata lain, cara kita memandang manusia, sumber daya alam, dan menjalani hidup di bumi ini dalam persepsi yang sama.

Paus Fransiskus menegaskan bahwa ekologi manusia itu utuh-holistis. Ia bukan hanya melibatkan krisis lingkungan hidup melainkan manusia secara keseluruhan yang mampu mendengarkan tangisan orang miskin dan menjadi ragi bagi masyarakat baru. Kita memiliki sebuah tanggung jawab yang besar, terutama terhadap generasi mendatang. Paus mempertanyakan, “Dunia macam apa yang mau kita wariskan kepada anak-anak dan orang-orang muda kita?”  Keegoisan, ketidakpedulian, dan gaya hidup kita yang tidak bertanggung jawab mengancam anak-anak di masa depan. Oleh karena itu, Paus Fransiskus menyerukan mari kita menjaga Bumi, mengatasi godaan untuk mementingkan diri sendiri saja yang membuat kita menjadi pemangsa sumber daya alam. Paus berharap kita dapat  menumbuhkan rasa hormat terhadap karunia Bumi dan ciptaan. Rasa hormat itu dimulai dengan gaya hidup yang ramah lingkungan. Dengan Laudato Si Action Platform, Paus Fransiskus mendorong agar ada gerakan-kegiatan aksi nyata, kita melibatkan komunitas dengan cara yang berbeda, sehingga benar-benar berkelanjutan dalam semangat yang utuh. Kita semua melakukan perjalanan ini bersama-sama di dalam keluarga, paroki dan keuskupan, sekolah-universitas- rumah sakit, bisnis, pertanian, organisasi, kelompok dan gerakan-komunitas hidup bakti dapat bekerja sama. Dengan cara tersebut, kita mampu menciptakan masa depan yang lebih baik; dunia yang lebih inklusif, bersaudara-bersahabat, berdamai, dan berkelanjutan. Laudato Si Action Platform memberikan arah kepada kita saat mencari ekologi yang utuh; mencari jawaban atas jeritan Bumi, menanggapi tangisan orang miskin, ekonomi ekologis, penerapan gaya hidup sederhana, pendidikan ekologis, spritualitas ekologis, dan keterlibatan masyarakat. Kita semua dapat bekerja sama masing-masing dengan budaya dan pengalamannya sendiri-sendiri, masing-masing dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri, sehingga ibu Bumi rumah kita bersama kembali pada keindahan yang asli dan ciptaan dapat bersinar lagi sesuai dengan rencana Tuhan.

Menyimak arah Laudato Si Action Platform tersebut di atas, jelaslah bahwa persepsi kita tentang ekologi, yakni konservasi. Manusia ditempatkan di dalam taman Eden itu tidak hanya berkuasa, tetapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Konsep berkuasa menjadikan manusia mengeksplorasi sumber daya alam (SDA), sehingga merusak ekosistem alam dan mendatangkan krisis lingkungan hidup termasuk penyakit ( pandemi Covid-19). Manusia lupa bahwa SDA tersebut diusahakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tetap dipelihara secara berkelanjutan. Dengan demikian, persepsi ekologi yang konservasi menghendaki pola pikir, sikap-gaya hidup dan tindakan manusia terarah kepada mengusahakan dan memeliharanya secara hormat dan penuh tanggung jawab SDA ini. Persepsi tersebut dimiliki oleh sebagian besar masyarakat adat dengan kearifan lokalnya. Bahwa SDA tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia secara ekonomi (materi), tetapi ada segi rohani-spiritualitas ekologisnya, sehingga disakralkan. Masyarakat  adat membuat ritual sebagai tanda penghormatan dan penghargaan, serta menjalin relasi yang harmonis dengan lingkungan hidup.

Paus Fransisikus mendorong kita melakukan gerakan yang konservasi. Adalah tugas dan perutusan kita bagaimana mengajak sekalian umat manusia mengusahakan dan memelihara SDA agar berkelanjutan. Sekecil apa pun usaha-gerakan baik secara pribadi maupun bersama, kita telah mengambil bagian dalam menyembuhkan dan memulihkan luka-sakitnya Ibu Bumi rumah kita bersama. Hal ini tidak hanya menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan bagi lingkungan hidup, tetapi juga bagi manusia. Bahkan sesungguhnya perjuangan ini lebih menitikberatkan kepada manusia karena krisis lingkungan hidup hanyalah dampak dari ulah manusia. Dengan demikian, tindakan penyembuhan dan pemulihan bukan hanya pada lingkungan hidup melainkan manusia yang merupakan bagian integral dari ekologi. Gerakan konservasi didasarkan pada kesadaran manusia yang memiliki nurani ekologis atau Gerakan Nurani Ekologi (GNE).

Dalam tugas dan perutusan, JPIC Bruder MTB sedang membangun GNE baik secara internal maupun eksternal. Dalam buletin San Damiano edisi V ini, redaksi menyajikan model dan cara bagaimana menghidupi GNE. Model dan cara tersebut dapat dibaca dalam rubrik artikel-opini, refleksi, renungan, berita kegiatan, dan pojok sastra. Semuanya itu diharapkan  dapat membantu secara pribadi dan bersama untuk menghidupi GNE dalam keseharian kita. Mari kita mulai lagi … Pax Et Bonum. Selamat membaca.

Catatan: Buletin San Damiano V – 2022 (digital) dapat diunduh melalui tautan ini.

Curhat dari Belantara Digital

Judul: Curhat dari Belantara Digital; Refleksi Pandemi Para Guru SMA Santo Paulus Pontianak

Penulis: Br. Filianus Nasu Rusik, MTB dkk. Editor: Severianus Endi & Stefanus Akim Perancang Grafis: Teguh Prastowo

Yogyakarta, Akalbudi Media ©2022

155 x 230 mm; viii + 292 hal

ISBN 798-622-91537-9-3

SERINGKALI masyarakat menganggap guru sebagai manusia serba bisa. Seakan-akan, guru tidak boleh menampakkan sisi kemanusiaannya. Seolah-olah guru harus selalu tampil sempurna, tanpa cacat cela. Namun jika kita bersedia sedikit merenung secara adil, maka kita mampu menempatkan sosok guru sebagai manusia yang memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Dan itu semua sangatlah manusiawi.

Buku Curhat dari Belantara Digital: Refleksi Pandemi Para Guru SMA Santo Paulus Pontianak ini menjadi cerminan atas aspek kemanusiaan para pendidik. Sebuah bunga rampai berisikan 35 tulisan, yang mereka sajikan secara populer. Melalui buku ini, pembaca bisa menyelami dinamika penyesuaiaan diri para guru dalam beradaptasi dengan suasana pendidikan yang tiba-tiba harus berubah drastis akibat Pandemi COVID-19.

Jika dalam kewajiban akademik, guru terkadang harus menyusun karya tulis yang sangat ilmiah, maka dalam buku ini mereka tampil dalam tulisan bergenre “karya populer”, sehingga aspek kemanusiaan benar-benar muncul. Pembaca akan menemukan banyak sisi human interest dari para guru. Kesedihan, kegembiraan, harapan, bahkan hal-hal yang bersifat humor. Karya ini menjadikan pandemi tak melulu harus disikapi dengan kesan nestapa, tapi juga memupuk semangat dan harapan.

 

Teologi Pembebasan di Papua

“Suatu teologi rakyat tidak mesti ditolak hanya karena phobia sinkritism. Melainkan bagaimana teologi rakyat itu ditimbang secara teologis dan didampingi serta dibimbing secara terus menerus sehingga berkembang menjadi teologi yang benar dan bertanggung jawab. Harapan untuk itulah yang mendasari karangan kecil ini.”

—Dr. M.Th. Mawene, M.Th

Perjumpaan adat dan agama secara khusus agama Kristen Protestan di Papua menjadi menarik untuk didiskusikan karena menyangkut paut dengan ketaatan dan kepercayaan masyarakat adat Papua dalam praktek hidupnya sehari-hari.

Dalam kerangka pembangunan di Papua selalu dimunculkan istilah “Satu Tungku Tiga batu, Adat, Agama dan Pemerintah. Tetapi apa makna dari istilah ini untuk ketiga institusi ini dan secara khusus masyarakat adat Papua? Beberapa tokoh adat menyampaikan bahwa dalam praktek adat dilupakan.

Selama 17 tahun saya bekerja sebagai Sekretaris Umum Dewan Adat Papua saya telah bertemu dengan para tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat serta para intelektual Papua. Mereka semua adalah orang beragama dan secara khusus seorang Kristen yang taat tetapi juga seorang yang memiliki ketaatan kepada adat-istiadatnya sebagai identitas suku atau bangsanya.

Dalam pengalaman penderitaan Papua yang panjang dalam perjuangannya untuk membebaskan diri dari penderitaan dan perjuangannya untuk hak-hak dasar masyarakat adat Papua telah menghadirkan pertanyaan tentang identitas bangsa dan pernyataan penolakan terhadap segala selalu yang asing atau yang bukan Papua punya, dan hal ini juga menyangkut kehidupan dan praktek hidup sebagai warga Kristen dan Warga Adat.

Dalam menghadapi situasi itulah Dewan Adat Papua melalui Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) menfasilitasi dialog gereja dan masyarakat adat Papua melalui seminar, lokakarya, debat mahasiswsa, pidato siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan menulis cerita dan bercerita bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain kegiatan-kegiatan ini, YADUPA juga menfasilitasi Dialog Terbuka di Aula STT GKI I.S. Kijne untuk membahas buku “Kristologi Papua” yang ditulis oleh Dr. M.Th Mawene, M.Th. Dalam Dialog Terbuka ini, penulis buku, para panelis dan peserta menyepakati judul baru “Teologi Pembebasan di Papua.

Kiranya buku ini dapat membantu kita dalam upaya penguatan hak-hak dasar masyarakat adat Papua dan membangun teologi rakyat seperti yang diharapkan oleh almarhum Pdt. M.Th Mawene, M.Th.

Ransiki, Manokwari Selatan

17 September 2021


Dr. Marthinus Theodorus Mawene, M.Th, lahir pada 12 Juni 1952 di Serui, Papua. Menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tahun 1975 di STT GKI I.S. Kijne, Jayapura. Melanjutkan studi S1 di STT Jakarta hingga selesai tahun 1978. Pada tahun 1990 menyelesaikan pendidikan Pascasarjana (S2) Program South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) di STT Jakarta. Pada tahun 2007, penulis berhasil meraih gelar Doktoral bidang Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Selama hidupnya penulis mengabdikan hidupnya di bidang akademik sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi GKI I.S. Kijne, Jayapura, Papua. Bidang ilmu yang ia tekuni adalah Teologi Perjanjian Lama. Beberapa buku yang pernah ia terbitkan antara lain Gereja yang Bernyanyi, Teologi Kemerdekaan, dan Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual.