Judul buku: Fokus HIdup; Sebuah Refleksi Kecil Menuju Pribadi Bermanfaat
Penulis: Stefanus Damai, CMM
Editor: Paskalis Wangga, CMM
Desain Grafis: @akalbudinetwork
Yogyakarta, Akalbudi Media
150 x 230 mm
xiv + 136 hal
ISBN …
“Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan cerita, tetapi juga sebuah ajakan untuk merayakan kehidupan dalam segala kompleksitasnya.”―Editor
“Fokus Hidup” adalah kumpulan 323 refleksi kehidupan yang diungkapkan oleh Frater Stef dalam memaknai pengalaman sehari-hari, yang kecil dan sederhana. Sebagai seorang religius penulis berhasil menghadirkan kisah yang membangkitkan rasa syukur dalam setiap detik kehidupan. Penulis ingin mengajak pembaca untuk menemukan arti dalam setiap momen dan menekankan pentingnya fokus dalam mencapai tujuan hidup. Dari kesederhanaan hingga tantangan yang kompleks, Fokus Hidup mengajarkan kepada pembaca tentang kekuatan kesadaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai situasi. Lebih jauh buku ini ingin mengajak para pembaca untuk menjalani setiap hari dengan penuh syukur, memandang setiap momen sebagai anugerah sekaligus kesempatan yang berharga untuk bertumbuh menjadi lebih baik.
Editor: Antonius P. Sipahutar, Paskalis Wangga, Teguh Prastowo
Yogyakarta, Akalbudi Media (c)2023
155 x 230 mm
x + 250 hal
ISBN 978-623-88301-5-2
Buku Melihat, Tergerak, dan Bergerak ini adalah sebuah monumen perayaan atas satu abad Kongregasi Frater CMM Berkarya di Bumi Indonesia. Kehadiran para frater Congregatio a Matre Misericordiae (CMM) pertama kali di Medan, Sumatera Utara, dinamika kongregasi dan bagaimana mereka hadir di tengah masyarakat Indonesia melalui karya pendidikan, kesehatan, dan pengembangan manusia terekam dalam buku ini.
Pembaca juga akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang Kongregasi Frater CMM, misi mereka di Indonesia, dan banyak karya yang telah mereka lakukan untuk masyarakat Indonesia selama 100 tahun. Buku ini juga mencakup kisah-kisah inspiratif dari beberapa frater dan masyarakat yang telah dipengaruhi oleh gerak langkah Kongregasi Frater CMM.
Di sini kita juga dapati bagaimana kongregasi membuka berbagai komunitas, sekolah dan melatih para guru dan pemimpin masyarakat. Buku ini juga memberikan gambaran tentang seberapa jauh Kongregasi Frater CMM telah berkembang dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Dalam buku ini pembaca juga akan dibawa untuk mengenali spiritualitas persaudaraan dan belas kasih melalui sosok inspiratif para frater dan bagaimana mereka terus berjuang dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat. Buku ini sangat cocok untuk para penggemar sejarah, pendidikan, dan spiritualitas kristiani serta untuk siapa saja yang ingin mengetahui tentang kisah inspiratif Kongregasi Frater CMM yang telah menghasilkan buah-buah keberhasilan bagi masyarakat Indonesia.
Salam jumpa para Saudara JPIC- Bruder MTB dan Saudara-Saudari yang peduli pada keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan yang baik, semoga sehat dan tetap semangat. Buletin SAN DAMIANO JPIC Bruder MTB edisi V ini bertema “PandemiCovid-19 dan Krisis Lingkungan Hidup.” Tema ini dimaksudkan bagaimana kita secara pribadi maupun bersama-sama merespon situasi pendemi yang merupakan bagian dari krisis lingkungan hidup. Krisis lingkungan hidup ini juga berdampak pada pemanasan global, perubahan iklim yang ekstrim, masalah air bersih, polusi pada tanah, air, dan udara karena sampah, kelaparan, jeritan orang miskin, serta masalah sosial lainnya. Begitu banyak persoalan hidup (multidimensi krisis) mendera kita di zaman modern-teknologi. Dunia macam apa yang akan kita wariskan kepada generasi mendatang? Pertanyaan ini memicu suatu jawaban-solusi ke depan berupa gerakan nurani ekologi (GNE).
Persepsi yang Sama
Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si (Mei 2015) menyerukan kepada semua orang yang berkehendak baik untuk merawat dan menjaga Ibu bumi rumah kita bersama. Namun selama ini seruan tersebut belum ditanggapi secara serius, sehingga diserukan lagi Laudato Si Action Platform. Rumah kita bersama semakin sakit-terluka oleh keganasan manusia yang berkuasa dan tidak bertanggung jawab atas sumber daya bumi yang diberikan Tuhan. Manusia terus merusak ekosistem alam, sehingga terjadi krisis lingkungan hidup, polusi tanah, air dan udara serta pemanasan global. Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa tangisan bumi dan orang miskin yang paling menderita. Semuanya itu saling berhubungan dan ketergantungan satu sama lain karena kesehatan kita tidak terlepas dari lingkungan hidup. Dengan demikian, kita membutuhkan pendekatan ekologi baru, mengubah cara hidup kita, dan gaya hidup kita dalam hubungan-relasi dengan sumber daya Bumi. Dengan kata lain, cara kita memandang manusia, sumber daya alam, dan menjalani hidup di bumi ini dalam persepsi yang sama.
Paus Fransiskus menegaskan bahwa ekologi manusia itu utuh-holistis. Ia bukan hanya melibatkan krisis lingkungan hidup melainkan manusia secara keseluruhan yang mampu mendengarkan tangisan orang miskin dan menjadi ragi bagi masyarakat baru. Kita memiliki sebuah tanggung jawab yang besar, terutama terhadap generasi mendatang. Paus mempertanyakan, “Dunia macam apa yang mau kita wariskan kepada anak-anak dan orang-orang muda kita?”Keegoisan, ketidakpedulian, dan gaya hidup kita yang tidak bertanggung jawab mengancam anak-anak di masa depan. Oleh karena itu, Paus Fransiskus menyerukan mari kita menjaga Bumi, mengatasi godaan untuk mementingkan diri sendiri saja yang membuat kita menjadi pemangsa sumber daya alam. Paus berharap kita dapatmenumbuhkan rasa hormat terhadap karunia Bumi dan ciptaan. Rasa hormat itu dimulai dengan gaya hidup yang ramah lingkungan. Dengan Laudato Si Action Platform, Paus Fransiskus mendorong agar ada gerakan-kegiatan aksi nyata, kita melibatkan komunitas dengan cara yang berbeda, sehingga benar-benar berkelanjutan dalam semangat yang utuh. Kita semua melakukan perjalanan ini bersama-sama di dalam keluarga, paroki dan keuskupan, sekolah-universitas- rumah sakit, bisnis, pertanian, organisasi, kelompok dan gerakan-komunitas hidup bakti dapat bekerja sama. Dengan cara tersebut, kita mampu menciptakan masa depan yang lebih baik; dunia yang lebih inklusif, bersaudara-bersahabat, berdamai, dan berkelanjutan. Laudato Si Action Platform memberikan arah kepada kita saat mencari ekologi yang utuh; mencari jawaban atas jeritan Bumi, menanggapi tangisan orang miskin, ekonomi ekologis, penerapan gaya hidup sederhana, pendidikan ekologis, spritualitas ekologis, dan keterlibatan masyarakat. Kita semua dapat bekerja sama masing-masing dengan budaya dan pengalamannya sendiri-sendiri, masing-masing dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri, sehingga ibu Bumi rumah kita bersama kembali pada keindahan yang asli dan ciptaan dapat bersinar lagi sesuai dengan rencana Tuhan.
Menyimak arah Laudato Si Action Platform tersebut di atas, jelaslah bahwa persepsi kita tentang ekologi, yakni konservasi. Manusia ditempatkan di dalam taman Eden itu tidak hanya berkuasa, tetapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Konsep berkuasa menjadikan manusia mengeksplorasi sumber daya alam (SDA), sehingga merusak ekosistem alam dan mendatangkan krisis lingkungan hidup termasuk penyakit ( pandemi Covid-19). Manusia lupa bahwa SDA tersebut diusahakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tetap dipelihara secara berkelanjutan. Dengan demikian, persepsi ekologi yang konservasi menghendaki pola pikir, sikap-gaya hidup dan tindakan manusia terarah kepada mengusahakan dan memeliharanya secara hormat dan penuh tanggung jawab SDA ini. Persepsi tersebut dimiliki oleh sebagian besar masyarakat adat dengan kearifan lokalnya. Bahwa SDA tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia secara ekonomi (materi), tetapi ada segi rohani-spiritualitas ekologisnya, sehingga disakralkan. Masyarakatadat membuat ritual sebagai tanda penghormatan dan penghargaan, serta menjalin relasi yang harmonis dengan lingkungan hidup.
Paus Fransisikus mendorong kita melakukan gerakan yang konservasi. Adalah tugas dan perutusan kita bagaimana mengajak sekalian umat manusia mengusahakan dan memelihara SDA agar berkelanjutan. Sekecil apa pun usaha-gerakan baik secara pribadi maupun bersama, kita telah mengambil bagian dalam menyembuhkan dan memulihkan luka-sakitnya Ibu Bumi rumah kita bersama. Hal ini tidak hanya menghadirkan keadilan, perdamaian, dan keutuhan bagi lingkungan hidup, tetapi juga bagi manusia. Bahkan sesungguhnya perjuangan ini lebih menitikberatkan kepada manusia karena krisis lingkungan hidup hanyalah dampak dari ulah manusia. Dengan demikian, tindakan penyembuhan dan pemulihan bukan hanya pada lingkungan hidup melainkan manusia yang merupakan bagian integral dari ekologi. Gerakan konservasi didasarkan pada kesadaran manusia yang memiliki nurani ekologis atau Gerakan Nurani Ekologi (GNE).
Dalam tugas dan perutusan, JPIC Bruder MTB sedang membangun GNE baik secara internal maupun eksternal. Dalam buletin San Damiano edisi V ini, redaksi menyajikan model dan cara bagaimana menghidupi GNE. Model dan cara tersebut dapat dibaca dalam rubrik artikel-opini, refleksi, renungan, berita kegiatan, dan pojok sastra. Semuanya itu diharapkandapat membantu secara pribadi dan bersama untuk menghidupi GNE dalam keseharian kita. Mari kita mulai lagi … Pax Et Bonum. Selamat membaca.
Catatan: Buletin San Damiano V – 2022 (digital) dapat diunduh melalui tautan ini.
“Suatu teologi rakyat tidak mesti ditolak hanya karena phobia sinkritism. Melainkan bagaimana teologi rakyat itu ditimbang secara teologis dan didampingi serta dibimbing secara terus menerus sehingga berkembang menjadi teologi yang benar dan bertanggung jawab. Harapan untuk itulah yang mendasari karangan kecil ini.”
—Dr. M.Th. Mawene, M.Th
Perjumpaan adat dan agama secara khusus agama Kristen Protestan di Papua menjadi menarik untuk didiskusikan karena menyangkut paut dengan ketaatan dan kepercayaan masyarakat adat Papua dalam praktek hidupnya sehari-hari.
Dalam kerangka pembangunan di Papua selalu dimunculkan istilah “Satu Tungku Tiga batu, Adat, Agama dan Pemerintah. Tetapi apa makna dari istilah ini untuk ketiga institusi ini dan secara khusus masyarakat adat Papua? Beberapa tokoh adat menyampaikan bahwa dalam praktek adat dilupakan.
Selama 17 tahun saya bekerja sebagai Sekretaris Umum Dewan Adat Papua saya telah bertemu dengan para tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat serta para intelektual Papua. Mereka semua adalah orang beragama dan secara khusus seorang Kristen yang taat tetapi juga seorang yang memiliki ketaatan kepada adat-istiadatnya sebagai identitas suku atau bangsanya.
Dalam pengalaman penderitaan Papua yang panjang dalam perjuangannya untuk membebaskan diri dari penderitaan dan perjuangannya untuk hak-hak dasar masyarakat adat Papua telah menghadirkan pertanyaan tentang identitas bangsa dan pernyataan penolakan terhadap segala selalu yang asing atau yang bukan Papua punya, dan hal ini juga menyangkut kehidupan dan praktek hidup sebagai warga Kristen dan Warga Adat.
Dalam menghadapi situasi itulah Dewan Adat Papua melalui Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) menfasilitasi dialog gereja dan masyarakat adat Papua melalui seminar, lokakarya, debat mahasiswsa, pidato siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan menulis cerita dan bercerita bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain kegiatan-kegiatan ini, YADUPA juga menfasilitasi Dialog Terbuka di Aula STT GKI I.S. Kijne untuk membahas buku “Kristologi Papua” yang ditulis oleh Dr. M.Th Mawene, M.Th. Dalam Dialog Terbuka ini, penulis buku, para panelis dan peserta menyepakati judul baru “Teologi Pembebasan di Papua.
Kiranya buku ini dapat membantu kita dalam upaya penguatan hak-hak dasar masyarakat adat Papua dan membangun teologi rakyat seperti yang diharapkan oleh almarhum Pdt. M.Th Mawene, M.Th.
Ransiki, Manokwari Selatan
17 September 2021
Dr. Marthinus Theodorus Mawene, M.Th, lahir pada 12 Juni 1952 di Serui, Papua. Menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tahun 1975 di STT GKI I.S. Kijne, Jayapura. Melanjutkan studi S1 di STT Jakarta hingga selesai tahun 1978. Pada tahun 1990 menyelesaikan pendidikan Pascasarjana (S2) Program South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) di STT Jakarta. Pada tahun 2007, penulis berhasil meraih gelar Doktoral bidang Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Selama hidupnya penulis mengabdikan hidupnya di bidang akademik sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi GKI I.S. Kijne, Jayapura, Papua. Bidang ilmu yang ia tekuni adalah Teologi Perjanjian Lama. Beberapa buku yang pernah ia terbitkan antara lain Gereja yang Bernyanyi, Teologi Kemerdekaan, dan Perjanjian Lama dan TeologiKontekstual.