
“Suatu teologi rakyat tidak mesti ditolak hanya karena phobia sinkritism. Melainkan bagaimana teologi rakyat itu ditimbang secara teologis dan didampingi serta dibimbing secara terus menerus sehingga berkembang menjadi teologi yang benar dan bertanggung jawab. Harapan untuk itulah yang mendasari karangan kecil ini.”
—Dr. M.Th. Mawene, M.Th
Perjumpaan adat dan agama secara khusus agama Kristen Protestan di Papua menjadi menarik untuk didiskusikan karena menyangkut paut dengan ketaatan dan kepercayaan masyarakat adat Papua dalam praktek hidupnya sehari-hari.
Dalam kerangka pembangunan di Papua selalu dimunculkan istilah “Satu Tungku Tiga batu, Adat, Agama dan Pemerintah. Tetapi apa makna dari istilah ini untuk ketiga institusi ini dan secara khusus masyarakat adat Papua? Beberapa tokoh adat menyampaikan bahwa dalam praktek adat dilupakan.
Selama 17 tahun saya bekerja sebagai Sekretaris Umum Dewan Adat Papua saya telah bertemu dengan para tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat serta para intelektual Papua. Mereka semua adalah orang beragama dan secara khusus seorang Kristen yang taat tetapi juga seorang yang memiliki ketaatan kepada adat-istiadatnya sebagai identitas suku atau bangsanya.
Dalam pengalaman penderitaan Papua yang panjang dalam perjuangannya untuk membebaskan diri dari penderitaan dan perjuangannya untuk hak-hak dasar masyarakat adat Papua telah menghadirkan pertanyaan tentang identitas bangsa dan pernyataan penolakan terhadap segala selalu yang asing atau yang bukan Papua punya, dan hal ini juga menyangkut kehidupan dan praktek hidup sebagai warga Kristen dan Warga Adat.
Dalam menghadapi situasi itulah Dewan Adat Papua melalui Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) menfasilitasi dialog gereja dan masyarakat adat Papua melalui seminar, lokakarya, debat mahasiswsa, pidato siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan menulis cerita dan bercerita bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain kegiatan-kegiatan ini, YADUPA juga menfasilitasi Dialog Terbuka di Aula STT GKI I.S. Kijne untuk membahas buku “Kristologi Papua” yang ditulis oleh Dr. M.Th Mawene, M.Th. Dalam Dialog Terbuka ini, penulis buku, para panelis dan peserta menyepakati judul baru “Teologi Pembebasan di Papua.
Kiranya buku ini dapat membantu kita dalam upaya penguatan hak-hak dasar masyarakat adat Papua dan membangun teologi rakyat seperti yang diharapkan oleh almarhum Pdt. M.Th Mawene, M.Th.
Ransiki, Manokwari Selatan
17 September 2021
Dr. Marthinus Theodorus Mawene, M.Th, lahir pada 12 Juni 1952 di Serui, Papua. Menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tahun 1975 di STT GKI I.S. Kijne, Jayapura. Melanjutkan studi S1 di STT Jakarta hingga selesai tahun 1978. Pada tahun 1990 menyelesaikan pendidikan Pascasarjana (S2) Program South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) di STT Jakarta. Pada tahun 2007, penulis berhasil meraih gelar Doktoral bidang Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Selama hidupnya penulis mengabdikan hidupnya di bidang akademik sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi GKI I.S. Kijne, Jayapura, Papua. Bidang ilmu yang ia tekuni adalah Teologi Perjanjian Lama. Beberapa buku yang pernah ia terbitkan antara lain Gereja yang Bernyanyi, Teologi Kemerdekaan, dan Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual.