Yogyakarta, Akalbudi Media
150 x 230 mm
xii + 112 hal
ISBN …
“Menjadi guru berarti siap menghadapi medan pertempuran. Sebab guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi ikut andil dalam pembentukan kepribadian peserta didik.” –Br. Ferdi, MTB
Buku ini diramu dari berbagai pengalaman para guru di SMP Bruder Pontianak, Kalimantan Barat. Karya para guru ini merupakan pengalaman konkrit dalam berdinamika bersama siswa, baik di dalam maupun di luar kelas. Menjadi guru berarti menjadi “pendidik tanpa batas”. Selama ia dipanggil menjadi guru, selama itu pula ia berperan sebagai pendidik. Namun, menjadi pendidik bukanlah hanya tugas guru di sekolah. Orang tua juga menjadi pendidik yang pertama dan utama. Orang tua tidak boleh melepas tangan dalam mendidik putra-putri mereka. Dengan demikian guru di sekolah berperan sebagai perpanjangan tangan orang tua di rumah. Untuk itu dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan sekolah dalam mendidik para generasi penerus. Orang tua dan sekolah perlu membangun komunikasi yang intensif demi terciptanya pendidikan holistik dan integral.
Judul buku: Fokus HIdup; Sebuah Refleksi Kecil Menuju Pribadi Bermanfaat
Penulis: Stefanus Damai, CMM
Editor: Paskalis Wangga, CMM
Desain Grafis: @akalbudinetwork
Yogyakarta, Akalbudi Media
150 x 230 mm
xiv + 136 hal
ISBN …
“Buku ini bukan hanya sekadar kumpulan cerita, tetapi juga sebuah ajakan untuk merayakan kehidupan dalam segala kompleksitasnya.”―Editor
“Fokus Hidup” adalah kumpulan 323 refleksi kehidupan yang diungkapkan oleh Frater Stef dalam memaknai pengalaman sehari-hari, yang kecil dan sederhana. Sebagai seorang religius penulis berhasil menghadirkan kisah yang membangkitkan rasa syukur dalam setiap detik kehidupan. Penulis ingin mengajak pembaca untuk menemukan arti dalam setiap momen dan menekankan pentingnya fokus dalam mencapai tujuan hidup. Dari kesederhanaan hingga tantangan yang kompleks, Fokus Hidup mengajarkan kepada pembaca tentang kekuatan kesadaran dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai situasi. Lebih jauh buku ini ingin mengajak para pembaca untuk menjalani setiap hari dengan penuh syukur, memandang setiap momen sebagai anugerah sekaligus kesempatan yang berharga untuk bertumbuh menjadi lebih baik.
Ilustrator: Erik Karel Rumbrawer
Editor: Welly Morin
Penyelaras Aksara: Teguh Prastowo
Desain Grafis: @akalbudinetwork
Yogyakarta, Akalbudi Media
210 x 297 mm
vii + 54 hal
ISBN …
Sebagai identitas bangsa, cerita rakyat adalah bagian dari warisan budaya yang penting untuk dijaga dan dilestarikan. Bangsa Papua sebagai bagian dari warga dunia memiliki kekayaan budaya yang beragam, termasuk dalam cerita rakyatnya. Buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua ini hadir untuk memperkenalkan dan memperluas pengetahuan kita tentang kearifan lokal Papua, serta memberikan inspirasi dan pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah dalam cerita tersebut. Dua puluh cerita rakyat yang sarat akan nilai budaya dan keteladanan kami sajikan secara ringan dan menghibur.
Judul buku: Tomang; Pendokumentasian Cerita Rakyat Mbaham-Matta Kabupaten Fakfak Papua Barat (Cergam)
Penulis: Marsela D.M. Gewab, Nelce Y. Weripang, Saida H. Wokas, dkk.
Penyunting: Joy E. Raharusun
Ilustrator: Joy E. Raharusun, Costantinus F. Raharusun, dan Labirin Art
Yogyakarta, Akalbudi Media (c)2023
210 x 297 mm
84 hal
ISBN 978-623-88301-4-5
Tomang adalah sebuah tas tradisional suku Mbaham-Matta yang dibuat dari daun pandan hutan khusus. Selain daun pandan, dapat pula dibuat dari sejenis bilah bambu khusus yang masih muda. Tomang merupakan warisan budaya suku Mbaham Matta Kabupaten Fakfak. Nama Tomang berasal dari kata “Tuweman” yang bermakna tas atau kantung. Tuweman terdiri dari berbagai ukuran dengan fungsinya masing-masing.
Tuweman atau Tomang biasa dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Namun Tomang berukuran kecil dengan hiasan tertentu hanya dapat digunakan oleh kaum laki-laki dewasa. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pemakainya telah dewasa. Tomang untuk kaum laki-laki suku Mbaham-Matta adalah simbol tanggung jawab. Di dalam Tomang biasanya berisi berbagai keperluan seperti tembakau, sirih, pinang, kapur dan juga harta berupa uang dan emas. Bahkan warisan sakral dari suku atau marga dapat pula disimpan di dalamnya.
Di dalam Tomang juga terdapat anyaman dari daun pandan atau bilah bambu yang disebut “Tuw Mbiom”. Berbentuk seperti Tomang, namun memiliki penutup sehingga berfungsi sebagai dompet. Di wadah inilah tembakau, pinang, uang dan emas disimpan lalu dimasukkan ke dalam Tomang
Tomang dapat dimaknai sebagai simbol tanggung jawab, kedewasaan dan keperkasaan bagi orang yang menerima Tomang di pundaknya.
Editor: Antonius P. Sipahutar, Paskalis Wangga, Teguh Prastowo
Yogyakarta, Akalbudi Media (c)2023
155 x 230 mm
x + 250 hal
ISBN 978-623-88301-5-2
Buku Melihat, Tergerak, dan Bergerak ini adalah sebuah monumen perayaan atas satu abad Kongregasi Frater CMM Berkarya di Bumi Indonesia. Kehadiran para frater Congregatio a Matre Misericordiae (CMM) pertama kali di Medan, Sumatera Utara, dinamika kongregasi dan bagaimana mereka hadir di tengah masyarakat Indonesia melalui karya pendidikan, kesehatan, dan pengembangan manusia terekam dalam buku ini.
Pembaca juga akan mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang Kongregasi Frater CMM, misi mereka di Indonesia, dan banyak karya yang telah mereka lakukan untuk masyarakat Indonesia selama 100 tahun. Buku ini juga mencakup kisah-kisah inspiratif dari beberapa frater dan masyarakat yang telah dipengaruhi oleh gerak langkah Kongregasi Frater CMM.
Di sini kita juga dapati bagaimana kongregasi membuka berbagai komunitas, sekolah dan melatih para guru dan pemimpin masyarakat. Buku ini juga memberikan gambaran tentang seberapa jauh Kongregasi Frater CMM telah berkembang dan memajukan pendidikan di Indonesia.
Dalam buku ini pembaca juga akan dibawa untuk mengenali spiritualitas persaudaraan dan belas kasih melalui sosok inspiratif para frater dan bagaimana mereka terus berjuang dalam memberikan pengabdian kepada masyarakat. Buku ini sangat cocok untuk para penggemar sejarah, pendidikan, dan spiritualitas kristiani serta untuk siapa saja yang ingin mengetahui tentang kisah inspiratif Kongregasi Frater CMM yang telah menghasilkan buah-buah keberhasilan bagi masyarakat Indonesia.
Judul buku: Terhempas dari Rumah Adat – Penulis: Yason Ngelia
Editor: Samuel Womsiwor, Welly Morin
Yogyakarta, Akalbudi Media
140 x 200 mm
vii + 54 hal
ISBN 978-623-88301-1-4
Buku Terhempas dari Rumah Adat: Studi Kasus Orang Port Numbay di Tengah Perkembangan Kota Jayapura adalah satu hasil Kajian Yadupa tentang pergeseran budaya orang Port Numbay dalam dinamika Pembangunan di Kotamadya Jayapura, Papua.
Studi ini bertujuan untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat adat Port Numbay ditengah perkembangan pembangunan Kota Jayapura baik aspek sosial, budaya, lingkungan dan politik dan juga keberlanjutan hidup masyarakat adat Port Numbay.
Hasil kajian tersebut telah didokumentasikan dalam buku kecil ini. Semoga buku ini dapat menjadi referensi bagi masyarakat adat Papua secara khusus di Port Numbay dalam menata masa depannya. Selain itu semoga bermanfaat pula bagi akademisi dan pengambil kebijakan di Kota Jayapura dan di Tanah Papua untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan di Tanah Papua berorientasi pada masyarakat adat dan masa depan anak-cucunya. Sekaligus untuk mendorong agar Masyarakat Adat Papua tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dengan segala potensi dan kekayaan yang dimilikinya.
Ilustrator: Nadila Restu Iswara, Amanda Juliana B. Hutahaean
Yogyakarta, Akalbudi Media (c)2022
155 x 230 mm
x + 170 hal
ISBN 978-623-88301-2-1
Kalau disadari secara jeli maka, makhluk yang paling kaya imajinasi dan fantasi adalah para remaja karena mereka berada pada masa peralihan dari anak menuju dewasa. Dalam perspektif psikologi disebut dengan istilah masa-masa storm and drunk yang penuh gejolak emosi khususnya. Emosi adalah sebuah perangkat penting yang tetap perlu dipelajari dan dikelola agar menghasilkan respons positif serta bermanfaat.
Oleh karenanya, agar emosi dapat dikelola secara baik, diperlukan kanal atau ruang sebagai tempat penyaluran. Dalam istilah saat ini, peristiwa penyaluran emosi yang baik melalui beragam cara salah satunya adalah: curhat. Maka dari itu, salah satu curhat yang dapat dilakukan adalah bercerita melalui tulisan walaupun singkat tetapi sudah melepaskan dan memberi ruang kosong kembali dalam kognisi kita untuk kemudian diisi pengalaman berikutnya. Model cerita pendek merupakan salah satu media yang menarik untuk mengkomunikasikan pengalaman semacam tempat berbagi dalam rangka mencerahkan diri sendiri.
Buku ini merupakan ventilasi pengalaman para penulisnya yang secara khusus terkait dengan kehidupan pribadi dalam hal belajar musik. Tidak menutup kemungkinan secara umum juga banyak remaja mengalami hal yang sama seperti cerita dalam buku ini. Dengan kata lain kumpulan tulisan dalam buku ini dapat memberikan kesehatan untuk memupuk mental penulisnya dan diharapkan dapat menstimuli lahirnya varian tulisan berikutnya. Dengan berbagai gaya ungkap yang rileks, apa adanya, tanpa beban SPOK sebagai ciri remaja milenial maka buku ini patut dihargai sebagai sebuah upaya untuk berlajar berkata jujur. Baik terhadap diri sendiri maupun kepada pembaca dan tanpa tendensi mendiskusikan kebenaran apapun.
SERINGKALI masyarakat menganggap guru sebagai manusia serba bisa. Seakan-akan, guru tidak boleh menampakkan sisi kemanusiaannya. Seolah-olah guru harus selalu tampil sempurna, tanpa cacat cela. Namun jika kita bersedia sedikit merenung secara adil, maka kita mampu menempatkan sosok guru sebagai manusia yang memiliki keunggulan sekaligus kelemahan. Dan itu semua sangatlah manusiawi.
Buku Curhat dari Belantara Digital: Refleksi Pandemi Para Guru SMA Santo Paulus Pontianak ini menjadi cerminan atas aspek kemanusiaan para pendidik. Sebuah bunga rampai berisikan 35 tulisan, yang mereka sajikan secara populer. Melalui buku ini, pembaca bisa menyelami dinamika penyesuaiaan diri para guru dalam beradaptasi dengan suasana pendidikan yang tiba-tiba harus berubah drastis akibat Pandemi COVID-19.
Jika dalam kewajiban akademik, guru terkadang harus menyusun karya tulis yang sangat ilmiah, maka dalam buku ini mereka tampil dalam tulisan bergenre “karya populer”, sehingga aspek kemanusiaan benar-benar muncul. Pembaca akan menemukan banyak sisi human interest dari para guru. Kesedihan, kegembiraan, harapan, bahkan hal-hal yang bersifat humor. Karya ini menjadikan pandemi tak melulu harus disikapi dengan kesan nestapa, tapi juga memupuk semangat dan harapan.
“Suatu teologi rakyat tidak mesti ditolak hanya karena phobia sinkritism. Melainkan bagaimana teologi rakyat itu ditimbang secara teologis dan didampingi serta dibimbing secara terus menerus sehingga berkembang menjadi teologi yang benar dan bertanggung jawab. Harapan untuk itulah yang mendasari karangan kecil ini.”
—Dr. M.Th. Mawene, M.Th
Perjumpaan adat dan agama secara khusus agama Kristen Protestan di Papua menjadi menarik untuk didiskusikan karena menyangkut paut dengan ketaatan dan kepercayaan masyarakat adat Papua dalam praktek hidupnya sehari-hari.
Dalam kerangka pembangunan di Papua selalu dimunculkan istilah “Satu Tungku Tiga batu, Adat, Agama dan Pemerintah. Tetapi apa makna dari istilah ini untuk ketiga institusi ini dan secara khusus masyarakat adat Papua? Beberapa tokoh adat menyampaikan bahwa dalam praktek adat dilupakan.
Selama 17 tahun saya bekerja sebagai Sekretaris Umum Dewan Adat Papua saya telah bertemu dengan para tokoh agama, tokoh perempuan, tokoh adat serta para intelektual Papua. Mereka semua adalah orang beragama dan secara khusus seorang Kristen yang taat tetapi juga seorang yang memiliki ketaatan kepada adat-istiadatnya sebagai identitas suku atau bangsanya.
Dalam pengalaman penderitaan Papua yang panjang dalam perjuangannya untuk membebaskan diri dari penderitaan dan perjuangannya untuk hak-hak dasar masyarakat adat Papua telah menghadirkan pertanyaan tentang identitas bangsa dan pernyataan penolakan terhadap segala selalu yang asing atau yang bukan Papua punya, dan hal ini juga menyangkut kehidupan dan praktek hidup sebagai warga Kristen dan Warga Adat.
Dalam menghadapi situasi itulah Dewan Adat Papua melalui Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) menfasilitasi dialog gereja dan masyarakat adat Papua melalui seminar, lokakarya, debat mahasiswsa, pidato siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan menulis cerita dan bercerita bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Selain kegiatan-kegiatan ini, YADUPA juga menfasilitasi Dialog Terbuka di Aula STT GKI I.S. Kijne untuk membahas buku “Kristologi Papua” yang ditulis oleh Dr. M.Th Mawene, M.Th. Dalam Dialog Terbuka ini, penulis buku, para panelis dan peserta menyepakati judul baru “Teologi Pembebasan di Papua.
Kiranya buku ini dapat membantu kita dalam upaya penguatan hak-hak dasar masyarakat adat Papua dan membangun teologi rakyat seperti yang diharapkan oleh almarhum Pdt. M.Th Mawene, M.Th.
Ransiki, Manokwari Selatan
17 September 2021
Dr. Marthinus Theodorus Mawene, M.Th, lahir pada 12 Juni 1952 di Serui, Papua. Menyelesaikan pendidikan Diploma III pada tahun 1975 di STT GKI I.S. Kijne, Jayapura. Melanjutkan studi S1 di STT Jakarta hingga selesai tahun 1978. Pada tahun 1990 menyelesaikan pendidikan Pascasarjana (S2) Program South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST) di STT Jakarta. Pada tahun 2007, penulis berhasil meraih gelar Doktoral bidang Teologi di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Selama hidupnya penulis mengabdikan hidupnya di bidang akademik sebagai staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi GKI I.S. Kijne, Jayapura, Papua. Bidang ilmu yang ia tekuni adalah Teologi Perjanjian Lama. Beberapa buku yang pernah ia terbitkan antara lain Gereja yang Bernyanyi, Teologi Kemerdekaan, dan Perjanjian Lama dan TeologiKontekstual.