TOMANG; Pendokumentasian Cerita Rakyat Mbaham-Matta Kabupaten Fakfak Papua Barat

Judul buku: Tomang; Pendokumentasian Cerita Rakyat Mbaham-Matta Kabupaten Fakfak Papua Barat (Cergam)

Penulis: Marsela D.M. Gewab, Nelce Y. Weripang, Saida H. Wokas, dkk.

Penyunting: Joy E. Raharusun

Ilustrator: Joy E. Raharusun, Costantinus F. Raharusun, dan Labirin Art

Yogyakarta, Akalbudi Media (c)2023

210 x 297 mm

84 hal

ISBN 978-623-88301-4-5

 

Tomang adalah sebuah tas tradisional suku Mbaham-Matta yang dibuat dari daun pandan hutan khusus. Selain daun pandan, dapat pula dibuat dari sejenis bilah bambu khusus yang masih muda. Tomang merupakan warisan budaya suku Mbaham Matta Kabupaten Fakfak. Nama Tomang berasal dari kata “Tuweman” yang bermakna tas atau kantung. Tuweman terdiri dari berbagai ukuran dengan fungsinya masing-masing.

Tuweman atau Tomang biasa dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Namun Tomang berukuran kecil dengan hiasan tertentu hanya dapat digunakan oleh kaum laki-laki dewasa. Hal ini untuk menunjukkan bahwa pemakainya telah dewasa. Tomang untuk kaum laki-laki suku Mbaham-Matta adalah simbol tanggung jawab. Di dalam Tomang biasanya berisi berbagai keperluan seperti tembakau, sirih, pinang, kapur dan juga harta berupa uang dan emas. Bahkan warisan sakral dari suku atau marga dapat pula disimpan di dalamnya.

Di dalam Tomang juga terdapat anyaman dari daun pandan atau bilah bambu yang disebut “Tuw Mbiom”. Berbentuk seperti Tomang, namun memiliki penutup sehingga berfungsi sebagai dompet. Di wadah inilah tembakau, pinang, uang dan emas disimpan lalu dimasukkan ke dalam Tomang

Tomang dapat dimaknai sebagai simbol tanggung jawab, kedewasaan dan keperkasaan bagi orang yang menerima Tomang di pundaknya.

Fredrikus Warpopor, S.P

Penggiat Budaya Mbaham Matta